KH. Abdul Karim
Tokoh Pembabat wilayah desa Tolongrejo Adalah Mbah Kyai Nur Wahid Salah satu auliyak dan pengikut Pangeran Diponegoro. Pada waktu diponegoro ditangkap belanda Para pengikutnya Sebagian melarikan diri ke Jawa timur dengan kesepakatan untuk mengetahui kerabat dihalaman menanam pohon Sawo dan salah satunya mbah Nurwahid. Dia menghimput didaerah bersama pengikutnya yang diberi nama Desa Tulungrejo. Dengan jasanya oleh masyarakat desa tulungrejo tiap tahun Hari Rabu Legi bulan Selo di peringati Dengan Nama Bersih Deso,
bah Nur Wahid semasa hidupnya sesuai dengan hadits Nabi di atas.
Beliau mendarmabahktikan hidupnya untuk kepentingan orang banyak. Beliau
merupakan tokoh pembabat Desa Tulungrejo Kecamatan Pare Kabupaten Kediri,yang
sekarang terkenal dengan sebutan kampung Inggris . Atas Jasa beliau saat ini
berbagai suku, ras dan agama dari berbagai profesi hidup berdampingan di Desa
Tulungrejo.
Tidak hanya membantu orang dengan materi, Mbah Nur Wahid juga
mengajarkan ilmu baca al-qur’an kepada masyarakat sekitar, sehingga banyak
orang yang tadinya tidak mengenal Islam dan ajarannya, akhirnya masuk islam dan
belajar al-qur’an pada Mbah Nur Wahid.
Dan yang terakhir Mbah Nur Wahid juga melahirkan anak cucu dan
turunannya yang sholeh dan sholehah, sehingga senantiasa mendoakan beliau
walaupun telah 148 tahun meninggalkan kita semua, bahkan putra tunggal beliau
yang bernama Mbah Imam Puro merupakan Kepala Desa pertama di Desa Tulungrejo
Kecamatan Pare Kabupaten Kediri.
Untuk di ketahui, Mbah Nur Wahid bernama asli Raden Mas Ngabai
Hadiningrat. Beliau merupakan keturunan Raja Sriwijaya dari Jawa Tengah. Beliau
adalah salah satu panglima tinggi pasukan pangeran Diponegoro.
Setelah Pangeran Diponegoro di tangkap oleh pasukan belanda dan di
tahan di Makassar,maka Mbah Nur Wahid dan tujuh teman bersama pasukannya
bergeser ke daerah Jawa Timur untuk menghindari kejaran pasukan Belanda. Untuk
menghilangkan jejak dari Pasukan Belanda, Mbah Nur Wahid beberapa kali berganti
nama menjadi Raden Sangrip, Pranoto Gomo, Mas Julang,dan yang terakhir Nur
Wahid yang artinya satu cahaya.
Konon ketika Mbah Nur wahid membabat alas desa Tulungrejo
beliau bertapa untuk mendekatkan diri kepada yang maha pencipta di perut se
ekor sapi ( Waallohu aklam Bisowab.
Lahul fatihah
BalasHapusAmiin
Hapus