KH. Abdul Karim
.jpeg)
KH. Hamim Tohari Djazuli atau lebih dikenal dengan panggilan Gus Miek, beliau lahir pada 17 Agustus 1940, dari pasangan KH. Jazuli Utsman (seorang ulama sufi dan ahli tarikat pendiri Pon-Pes Al Falah Mojo Kediri) dengan Nyai Rodhiyah. Pendiri Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Mojo, Kediri.
Gus Miek seorang hafizh
(penghapal) Al-Quran. Karena, bagi Gus Miek, Al-Quran adalah tempat mengadukan
segala permasalahan hidupnya yang tidak bisa dimengerti orang lain. Dengan
mendengarkan dan membaca Al-Quran, beliaupun membentuk sema’an alquran dan
jama’ah Dzikrul Ghofilin.
Gus Miek menikah
dengan Zaenab, putri KH. Muhammad Karangkates, yang masih berusia 9 tahun.
Pernikahan ini berakhir dengan perceraian, ketika istrinya masih berusia
sekitar 12 tahun. Pada masa ini Gus Miek sudah sering pergi untuk melakukan
dakwah kulturalnya di berbagai daerah, tabarrukan ke berbagai guru sufi, dan
mendapatkan ijazah wirid-wirid.
Pada tahun 1960 Gus Miek
menikah dengan Lilik Suyati dari Setonogedong kota Kediri. Pernikahan ini atas
saran dari KH. Dalhar dan disetujui KH. Mubasyir Mundzir, para guru Gus Miek.
Gadis itulah yang menurut gurunya akan sanggup mendampingi hidupnya, dengan
melihat tradisi dan kebiasaan Gus Miek untuk berdakwah keluar rumah.
Pada awalnya pernikahan Gus
Miek dengan gadis Setonogedong ditentang KH. Djazuli Utsman dan Nyai Rodliyah.
Setelah melalui proses yang panjang akhirnya pernikahan itu disetujui. Saat itu
Gus Miek sudah berdakwah ke diskotek-diskotek, ke tempat perjudian, dan
lain-lain.
Buah dari pernikahannya, mereka dikaruniai enam anak, empat putra dan dua putri yakni H Agus Tajjuddin Heru Cokro, H Agus Sabuth Pranoto Projo, Agus Tijani Robert Syaifunnawas, H Agus Orbar Sadewo Ahmad, Hj Tahta Alfina Pagelaran, dan Ning Riyadin Dannis Fatussunnah.
Gus Miek wafat pada pada tanggal 5 juni 1993. Beliau menghembuskan napasnya yang terakhir di rumah sakit Budi Mulya Surabaya (sekarang siloam).Gus Miek wafat pada 5 Juni 1993. Beliau dimakamkan di Pemakaman Auliyya' Tambak Kediri, diiringi ratusan ribu kaum muslimin. Di pemakaman ini pula KH. Anis Ibrahim dari Tulungagung dimakamkan di sebelah barat makam Gus Miek, dan juga KH. Achmad Shidiq dimakamkan di sebelah selatan makam Gus Miek. Di pemakaman ini pula terdapat tidak kurang dari 22 orang yang kebanyakan adalah guru dan juga murid Gus Miek.
Demikian yang dapat kami informasikan jika banyak kekurangannya kami memohon maaf, yang sebanyak banyaknya.
Waallohul muwafiq
Komentar
Posting Komentar