KH. Abdul Karim

Assalamualaikum Wr. Wb.
Sahabat Sahabat pecinta Sejarah Ulama dan
Petilasan kali ini kami akan menyampaikan mengenai Biografi KH. Shirojuddin
Pendiri Pondok Pesantren Miftahul Ulum, semangat membaca dan berliterasi semoga
blog ini bisa bermanfaat. Aamiin
BIOGRAFI KH SIROJUDDIN PENDIRI PONDOK
PESANTREAN MIFTAHUL ULUM JOMBANGAN TERTEK PARE KEDIRI
Biografi KH Sirojuddin
Kh. Shirojuddin dilahirkan
didesa kaum Besito Kudus Jawa Tengah. Sebuah desa yang pada waktu itu masih
selalu di intai oleh penjajah belanda.
Demi untuk menyelamatkan
diri dari kejaran belanda itu Kyai Sirojuddin pergi kea rah timur sambil
mencari pandangan daerah yang benar benar cocok sebagai tempat tinggal serta
mendukung terhadap pengembangan agama yang sesuai dengan apa yang di
cita-citakan. Disamping itu juga menyebarkan agama islam pada setiap desa yang
di singgahinya. Alkisah, sampailah beliau di kota Kediri. Dikota inilah Kyai
Sirojuddin menemukan ketentraman dan kecocokan dalam menyebarkan agama
islam. Setelah menetap di daerah kediri Kh. shirojuddin menikah dengan
Bu Nyai Khatsiroh. Seorang wanita cantik nan ayu putrinya bapak naib pare
(utara masjid kauman pare). Sewaktu Nyai Khasiroh dipersunting R. Sirojuddin,
nyai khosiroh sudah mempunyai seorang putra yang bernama Mustam yang dikemudian
hari menjadi kyai disemanding. Kyai Mustam ini adalah kakeknya Alm Bpak Sajuri
yang makamnya sebelah barat masjid jombangan. Selang beberapa hari setelah
pernikahan Kyai Sirojuddin mendapat Nyai Khosiroh, diboyonglah istrinya kedesa
tunglur ( 4 Km dari pare). Setelah 1 tahun pernikahan itu rumah tangga Kyai
Sirojuddin mesra dan hangat dengan kelahiran putra beliau ang pertama. Yang
kemudian hari diberi nama Abu Amar. Putra inilah yang kian hari meneruskan
cita-cita perjuangan serta mewariskan kepribadian luhur sang kyai. Dan
ditunglur ini tidak begitu lama hanya 2 tahun saja. Setelah itu pindah ke desa
jombangan (+ 1 Km dari pare).
BABAT ALAS
Setalah 2 tahun hidup
bahagia bersama istri dan putranya ditunglur Kyai Sirojuddin mempunyai suatu
keinginan untuk mengembangkan ilmunya lewat pesantern. Selang beberapa hari
beliau berjalan-jalan kearah timur, disaat itulah Kyai Sirojuddin melihat hutan
rimba yang masih gawat. Pohon-pohon besar tumbuh diatasnya, dan berbagai macam
binatang menjadi penghuninya, disamping itu banyak lelembut dan makhluq halus
yang berkeliaran di dalamnya. Putaran waktu dari hari kehari minggu keminggu
Kyai Sirojuddin mempunyai inisiatif untuk menjadikan alas rimba yang masih
gawat itu menjadi sebuah desa yang dapat untuk sarana mengembangkan ilmunya.
Dengan penuh percaya diri
dan tawakal kepada Alloh serta dibantu beberapa teman beliau, akhirnya beliau
membabat alas itu dengan disertai kesabaran, ketabahan, keuletan. Niat suci dan
beberapa riyadhoh. Akhirnya terwujudlah desa yang aman, serta tentram dan penuh
dengan limpahan rahmat Alloh SWT. Dan dikemudian hari desa itu diberi nama Desa
“Jombangan” dinamakan desa jombangan, karena disebelah barat masjid terdapat
sebuah “jembangan” yaitu tempat air yang terbuat dari tanah dengan mulut yang
sangat lebar.
Diantara teman2 Kyai
Sirojuddin yang ikut membabat hutan adalah : P. Umar, kakaknya bapak said
(kepala desa jombangan) yang kemudian disuruh menempati sebelah timur dan teman
yang kedua adalah Bpk Suro yang kemudian hari disuruh menempati / diberi daerah
sebelah barat. Daerah itu sekarang ditempati mbah Pir Pulosari dan keluarganya.
Setelah hutan itu dijadikan
sebuah desa, maka di boyonglah istri dan putra Kyai Sirojuddin ke Jombangan.
Ditempat inilah Kyai Sirojuddin hidup rukun aman dan tenteram penuh bahagia bersama
keluarga dengan sebuah rumah kecil dan sangat sederhana untuk sekedar
berlindung dan beratapkan daun alang2 berdinding bambu. dan untuk sarana
peribadatanya beliau mendirikan sebuah mushola yang cukup sederhana.
Dikala itu suasana
jombangan masih sepi. Ma’lum memang belum ada penduduknya, kecuali hanya tiga
keluarga yang rumahnya berpencar dan agak jauh. Rumahnya P. Suro paling barat,
rumahnya Kyai Sirojuddin beserta kluarganya berada ditengah dan rumahnya P.
Umar paling timur sendiri. Meskipun keadaan Kyai Sirojuddin seperti itu, tapi
beliau adalah seorang kyai yang disegani oleh masyarakat sekitar. Maka tak lama
kemudian datanglah beberapa santri dari desa sekitar untuk menimba ilmu dari
Kyai Sirojuddin.
MENDIRIKAN PESANTREN
Waktupun terus bergulir
dari waktu kewaktu sampai akhirnya semakin bertambah banyak santri yang menimba
ilmu dan mencari barokah di pesantren jombangan asuhan kyai sirojuddin.
Alkisah, Kyai Sirojuddin berinisiatif untuk mendirikan pondok pesantren salafi
karena pesantrenlah pencetak ulama’ yang benar-benar alim dan pesantrenlah
muncul beberapa tokoh masyarakat dan para alim ulama’ yang terbesar diseluruh
Indonesia. Di samping itu mengingat keberadaan (Eksistensi) pesantren memang
merupakan ajang prestasi untuk mempersiapkan santri yang handal dan potensial
yang dapat memberikan alternative pemecahan masalah yang timbul dalam
masyarakat seperti krisis moral, merosotnya martabat kemanusiaan dan
terpengaruh kebudayaan barat yang masuk ke Indonesia.
Maka untuk mengatasi
hal-hal yang demikian, akhirnya Kyai Sirojuddin mendirikan sebuah pondok
pesantren yang kemudian hari diberi nama “Pondok Pesantren Miftahul Ulum”
sebuah pesantren yang masih berupa angkring-angkring bambu di sebelah selatan
mushola serta baru dihuni beberapa santri saja. Menurut shokhibul hikayat /
nara sumber: Pondok Pesantren Jombangan didirikan kira-kira setelah lima belas
tahun penangkapan pangeran Diponegoro, berarti + 1845M.
Kemudian setelah beberapa
tahun sejak dilahirkannya putra pertama yang bernama Abu Amar itu,
alhamdulillah Kyai Sirojuddin di karuniai putra putri lagi masing-masing yaitu:
Nyai Asiyatun Kyai Mu’in, Nyai Ruminah dan Nyai Mas’amah. Dengan demikian
pernikahan Kyai Sirojuddin dengan Nyai Khasiroh dikaruniai lima putra-putri
yaitu:
1. Kyai Abu Amar / KH.
Hasyim Sirojuddin + Musri’atun
2. Nyai Asiyatun + KH.
Saerozi (Ibunya KH. Abdul Hadi Pengasuh Pesantren Ringinagung KH. Ahmadi dan
KH. Zamroji Pengasuh Pesantren Kencong)
3. K. Mu’in + Nyai Marsilah
(Kakeknya Kyai Ubaidah Alm.)
4. Nyai Ruminah + Abdur
Rozi (Besito Kudus) sang pendiri Pondok Pesantren Putri “Miftahul Ulum” setelah
mempunyai tiga putra yaitu:
1. Imam Sya’roni + Nyai
Sholehah (Juron Gurah)
2. K. Tarukhi + Mas’udah
(Pakisaji Malang) 3. K. Bajuri Jombangan belum beristri sudah wafat. Maka tak
lama kemudian nyai ruminah nikah lagi dengan kyai Abdulloh dari juwet Maka
tak lama kemudian Nyai Ruminah nikah lagi dengan K. Abdullah dari Juwet
Ngronggot Nganjuk dan dikaruniai dua anak yaitu:
1. Ibu Badriah + K. Imam
Tabut (Papar)
2. K. Syafi’I + Muayadah
(Krian)
Setelah K. Abdullah wafat
pengasuh pesantren putri diganti oleh K. Bajuri sampai tahun 1979, kemudian
setelah K. Bajuri wafat diteruskan oleh K. Syaikhoni sebagai pengasuh pondok
pesantren putri samapai sekarang K. Syaikhoni ini putra dari K. Imam Sya’roni
dari Juron Gurah atau cucu Nyai Ruminah yang nikah dengan K. Abdurrozi. Pondok
Pesantren Putri “Miftahul Ulum” ini sewaktu diasuh oleh K. Bajuri setiap bulan
Ramadhan bisa mencapai + 500 santri putri yang mengikuti pengajian romadlonan.
5. nyai mas’amah + Kyai
Mahali dari mojo duwur jombang. Nyai mas’amah ini juga pernah mendirikan pondok
pesantren putri yang mana kebanyakan santri2nya berasal dari kampung sekitar
saja. Sedangkan pelajaran yang paling diutamakan adalah pengajian tartil
Al-Qur’an. Namun setelah pengasuhnya, Nyai Mas’amah dipanggil oleh Alloh SWT,
sekitar tahun 1983 dengan usia 60 tahun, maka pesantren putri ini mengalami
kemerosotan drastis, karena tak mempunyai anak sebagai generasi penerus.
Tak lama kemudian di tempat
yang agak berdekatan, sebelah utara nyai mas’amah yaitu dibelakang kediaman KH.
Syamsuddin yang bertepatan tanggal 8-9-1991M / 10-R. Awal 1411H. juga didirikan
pondok pesantren putri bernama “ Al-Musyari’ah” yang diasuh oleh kyai
Syamsuddin Hasyim serta di bantu oleh putra-putrinya.
Adapun tujuan yang ingin di
capai oleh pondok pesantren “ Al-Musyari’ah” juga sama dengan pondok pesantren
lainnya, yaitu untuk mengembangkan santri agar berkepribadian muslimah,
mempunyai pengetahuan dan mengamalkanya dengan di landasi iman dan taqwa serta
akhlaq mulia. Diharapkan pula agar santri2nya lahir ulama’ yang tangguh, Da’I
dan Mujahiddah yang menyampaikan syi’ar i
Diharapkan pula agar
santri2nya lahir ulama’ yang tangguh, Da’I dan Mujahiddah yang menyampaikan
syi’ar islam serta berusaha mewujudkan masyarakat yang islami ditengah-tengah
komunitasnya bila kelak mereka pulang kekampung halaman masing2.
Dalam rangka mencapai
tujuan tersebut, maka pesantren Al Musyari’ah tetap menerapkan tradisi
pesantren yang lama dengan menambah hal2 yang baru yang di anggap baik dan
perlu dimasyarakat dalam perkembangan zaman (Riwayat th ’96).
AL-QURAN YANG PALING DIUTAMAKAN
Pelajaran yang paling
diutamakan dalam pondok pasantren putri “Miftahul Ulum” yang didirikan oleh
seorang kyai yang gemar dengan pakaian serba putih ini, adalah pengajian tartil
Al Qur’an. Mengingat Al Quran adalah modal utama akan kwalitas dan kwantitas
santri ditengah-tengah masyarakat dan Al Qur’an pulalah yang menjadi pedoman
hidup kita.
Konon, bila kyai atau
mubaligh diwilayah pare dan sekitarnya kalau belum mengaji pada kyai Sirojuddin
akan kefasihan baca Al Qur’annya belum dikatakan syah menjadi imam oleh
masyarakatnya, sehingga kebanyakan kyai se-kawedanan pare bisa dikatakan alumni
Jombangan. Disamping itu pondok pesantren Jombangan bisa dikatagorikan paling
tua se-pare di banding dengan lainya. Diantara santrinya Kyai Sirojuddin yang
sekarang masih hidup adalah KH. Abdul Hadi Pengasuh pondok pesantren “mahir
Ar-Riyadl” ringin agung. (Riwayat th ’96).
TAMPAK KAROMAHNYA
Konon, sebagian santri Kyai
Sirojuddin adalah seorang pemuda yang sakti mandra guna. Santri ini setiap
malam jum’at legi selalu menyebar beras kuning, dengan taburan inilah muncul
beberapa ekor tikus sebesar paha dan beberapa harimau yang besar. Santri sakti
tak lain dan tak bukan adalah Hamzah. Santri asal kudus yang sudah lama mondok
di Jombangan.
Pada suatu hari santri itu
diutus oleh Kyai Sirojuddin untuk menjaga sawahnya yang ditanami lombok, karena
sering diganggu oleh para pencuri. Syahdan, malampun tiba, dalam keremangan
malam yang dingin yang kian lama semakin mencekam serta angin malam yang
berhembus merasuki jiwa itu, maka pemuda itu mulai menjaga sawah dengan sabar
dan tawakal. Akhirnya, datanglah beberapa pencuri yang akan menjarah tanaman
lombok itu, tapi hal itu tak sampai terjadi karena dihadang sekaligus diusir
oleh Hamzah. Walaupun akhirnya pakaiannya robek semua akibat terkena sabetan
senjata pencuri. Meskipun robek pakaiannya tapi tubuh Hamzah tidak luka
sedikitpun.
Di karenakan masalah itu
belum bisa diatasi dengan tuntas oleh Hamzah, artinya belum bisa meringkus /
mulumpuhkannya, maka pada suatu malam Kyai Sirojuddin menjaga sendiri, dan
benar juga apa yang dikatakan Hamzah, tak lama kemudiaan bermunculan beberapa
orang bersenjata tajam yang ingin menyerang Kyai Sirojuddin. Namun bagi Kyai
Sirojuddin mudah juga mengalahkan mereka itu, hanya dengan mengambil segenggam
debu yang ada dihadapannya saja lalu ditaburkan ke pencuri yang berjumlah tujuh
itu, maka terkaparlah mereka ke tanah dengan nafas kembang kempis. Wajah
tawanan pencuri itu tampak merah padam, agaknya baru kali ini mereka menemui
lawan yang sangat tangguh, mereka berusaha bangkit dan berdiri. Namun tenaganya
lumpuh, mereka hanya berdiam seribu bahasa, sepasang mata mereka penuh
ketakutan menatap ke arah Kyai Sirojuddin. Melihat hal ini Kyai Sirojuddin
merasa kasihan juga. Kemudian atas izin Alloh SWT kelumpuhan tujuh pencuri
tersebut bisa disembuhkan oleh Kyai Sirojuddin. Sesudah itu mereka dibawa
kelumbung untuk diberi hidangan makanan.
Sebenarnya semua santri
ingin memukulnya sampai babak belur karena sangat marah melihat ulah mereka
yang selalu menganggu sawah kyai, tapi berhubung dilarang oleh Kyai Sirojuddin
dengan dawuhnya, “Ngger… jarno wis kapok”.
Maka mereka mengurungkan
niatnya itu. Disamping itu, pencuri tersebut bahkan bersumpah dihadapan para
sang kyai dan para santri, “aku sak anak turunku pitu ora bakal ngulangi
maneh”. Benar hingga sesudah kejadian tersebut kawanan pencuri itu selamanya
tak pernah mengulangi lagi sampai sekarang (Riwayat th ’96).
KYAI SIROJUDDIN PULANG KE
RAHMATULLAH
Hari-hari nan ceria nan
bahagia dengan curahan rahmat dan maghfiroh Alloh SWT kian terlewati satu
persatu aleh Kyai Sirojuddin bersama keluarga serta para santri. Keceriaan itu
akhirnya sirna tatkala Kyai Sirojuddin dipanggil oleh Alloh SWT. Tak ada tangis
yang meledak, hanya awan kedukaan begitu kelabu menyelimuti hari-hari itu.
Perlahan-lahan air matapun menetes di bumi Jombangan seiring dengan datangnya
para tamu dari berbagai penjuru yang ingin berta’ziah dan memberi penghormatan
terakhir pada Kyai Sirojuddin. Begitulah kisah perjuangan pendiri sejati Kyai Sirojuddin
yang telah memulai segala sesuatu dari bawak, dari nol hingga mampu meletakkan
sebuah tonggak sejarah pesantren sekaligus menciptakan nasab yang sekarang
meneruskan estafet perjuangan beliau. Dan yang lebih tak ternilai lagi telah
membuat karya besar, sebuah nama besar “pondok pesantren Miftahul Ulum” yang
tiap hari ratusan santri yang mengais ilmu serta sejuta hikmah dan barokah
didalamnya.
Terima kasih,
Lahul fatihah
BalasHapus