KH. Abdul Karim
KH. Maksum Jauhari atau yang biasa dipanggil dengan Gus Maksum adalah putra dari pasangan KH. Abdullah Jauhari dengan Nyai Aisyah. Beliau lahir di Kanigoro, Kras, Kediri, pada tanggal 8 Agustus 1944. Selain itu, Gus Maksum juga merupakan salah seorang cucu pendiri PP Lirboyo KH. Manaf Abdul Karim.
Sebagai seorang kiai, Gus
Maksum berprilaku nyeleneh menurut adat kebiasaan orang pesantren.
Penampilannya nyentrik. Dia berambut gondrong, jengot dan kumis lebat, kain
sarungnya hampir mendekati lutut, selalu memakai bakiak. Lalu, seperti
kebiasaan orang-orang “jadug” di pesantren, Gus Maksum tidak pernah makan nasi
alias ngerowot. Uniknya lagi, dia suka memelihara binatang yang tidak umum.
Hingga masa tuanya Gus Maksum memelihara beberapa jenis binatang seperti
berbagai jenis ular dan unggas, buaya, kera, orangutan dan sejenisnya.
Pak Mukrim menyahut,
“Wonten nopo, Gus, kok rasukan njenengan suwek ngaten?” Gus berkata Maksum,
“Ojo didelok klambiku, Kang, tapi deloken kulitku suwek po ora?”
“Mboten, Gus,” sahut pak
Mukrim.
Gus Maksum berkata, “Aku
mau diundang pengajian nek Bojonegoro, Kang, lha kok pas aku nek panggung
ujuk-ujuk aku dibabat mboh nganggo golok opo nganggo keris ko mburi to kang.”
Pak Mukrim menimpali, “Alhamdulilah tasih diparingi selamet saking Gusti Alloh
geh, Gus?” Gus Maksum, “Iyo, Kang, nak gusti Alloh ra paring selamet mboh
dadine, Kang, mungkin ra ketemu koe kang (iya kang kalau seandainya Gusti Alloh
tidak menolongku, ga tau apa yang terjadi kang, mungkin gak ketemu dirimu lagi)
hehe,” sambil beliau ketawa kecil.
“Lha njur pripun gus
piantune engkang babat jenengan?” (lha trus imana nasib orang yang menghujami
pedang anda?) tanya Pak Mukrim ingin tahu.
Gus Maksum menjawab, “Embuh
urip mboh ora kang, sak wuse aku dibabat sikilku reflek nendang mungkur, tak
delok ndekke ndlosor ceglok ko panggung mlebu kalenan (ga tau hidup atau mati
kang, setelah dia menghujami aku, kakiku reflek menendang kebelakang dan aku
lihat dia terjatuh dari panggung dan masuk parit). Kapan kapan nak dek e jik
urung trimo gen nggolek i mrene, Kang, hehe. (Kapan kapan kalau dia masih ga
tetima biar mencari aku di sini kang hehe).”Itulah sikap keperwiraan Gus
Maksum, meskipun anak buahnya ribuan beliau tidak pernah memerintahkan anak
buahnya untuk membalaskan apa yang telah orang lain perbuat bagi beliau
keselamatan yang Allah anugerahkan sudah cukup untuk disyukuri. Mari kita
teladani sikap kesatria yang beliau miliki.
Riset dari berbagai sumber
Lahul fatihah
BalasHapus