KH. Abdul Karim

Gambar
  Assalamualaikum wr. wb.   Sahabat Makamnesia kali ini admin akan menyampaikan makam dari salah satu ulama yang sangat terkenal akan keshulukannya yaitu Kh. Abdul Karim untuk lebih jelasnya silahkan simak, KH. Abdul Karim atau lebih di kenal dengan panggilan Mbah Manab lahir kurang lebih sekitar tahun 1856, di Dukuh Banar, desa Diangan, Kawedanan Mertoyudan, Magelang, Jawa Tengah. Beliau merupakan putra ketiga dari pasangan Abdur Rahim dengan Salamah. beliau merupakan pendiri pondok pesantren Lirboyo. sedangkan makam beliau terletak  di belakang masjid Lawang Songo, pondok pesantren Lirboyo Kediri.    demikian info makam yang dapat admin sampaikan bila ada kurang lebihnya admin mohon maaf yang sebesar besarnya. 

Gus Maksum Kediri

KH. Maksum Jauhari atau yang biasa dipanggil dengan Gus Maksum adalah putra dari pasangan KH. Abdullah Jauhari dengan Nyai Aisyah. Beliau lahir di Kanigoro, Kras, Kediri, pada tanggal 8 Agustus 1944. Selain itu, Gus Maksum juga merupakan salah seorang cucu pendiri PP Lirboyo KH. Manaf Abdul Karim.

Sebagai seorang kiai, Gus Maksum berprilaku nyeleneh menurut adat kebiasaan orang pesantren. Penampilannya nyentrik. Dia berambut gondrong, jengot dan kumis lebat, kain sarungnya hampir mendekati lutut, selalu memakai bakiak. Lalu, seperti kebiasaan orang-orang “jadug” di pesantren, Gus Maksum tidak pernah makan nasi alias ngerowot. Uniknya lagi, dia suka memelihara binatang yang tidak umum. Hingga masa tuanya Gus Maksum memelihara beberapa jenis binatang seperti berbagai jenis ular dan unggas, buaya, kera, orangutan dan sejenisnya.

Wafat
KH. Maksum Jauhari wafat di Kanigoro pada 21 Desember 2003  dan dimakamkan di pemakaman keluarga PP Lirboyo dengan meninggalkan semangat dan keberanian yang luar biasa.

KISAH TELADAN

Dahulu Ketika Gus Maksum Jauhari tiba-tiba datang kerumah Kiai Mukrim Pon Pes al-Bukhari Ponorogo yang kala itu masih santri di Lirboyo.
Gus Maksum berujar, “Kang, cobo deloken geger ku!” sambil beliau memegang punggungnya.

Pak Mukrim menyahut, “Wonten nopo, Gus, kok rasukan njenengan suwek ngaten?” Gus berkata Maksum, “Ojo didelok klambiku, Kang, tapi deloken kulitku suwek po ora?”

“Mboten, Gus,” sahut pak Mukrim.

Gus Maksum berkata, “Aku mau diundang pengajian nek Bojonegoro, Kang, lha kok pas aku nek panggung ujuk-ujuk aku dibabat mboh nganggo golok opo nganggo keris ko mburi to kang.” Pak Mukrim menimpali, “Alhamdulilah tasih diparingi selamet saking Gusti Alloh geh, Gus?” Gus Maksum, “Iyo, Kang, nak gusti Alloh ra paring selamet mboh dadine, Kang, mungkin ra ketemu koe kang (iya kang kalau seandainya Gusti Alloh tidak menolongku, ga tau apa yang terjadi kang, mungkin gak ketemu dirimu lagi) hehe,” sambil beliau ketawa kecil.

“Lha njur pripun gus piantune engkang babat jenengan?” (lha trus imana nasib orang yang menghujami pedang anda?) tanya Pak Mukrim ingin tahu.

Gus Maksum menjawab, “Embuh urip mboh ora kang, sak wuse aku dibabat sikilku reflek nendang mungkur, tak delok ndekke ndlosor ceglok ko panggung mlebu kalenan (ga tau hidup atau mati kang, setelah dia menghujami aku, kakiku reflek menendang kebelakang dan aku lihat dia terjatuh dari panggung dan masuk parit). Kapan kapan nak dek e jik urung trimo gen nggolek i mrene, Kang, hehe. (Kapan kapan kalau dia masih ga tetima biar mencari aku di sini kang hehe).”Itulah sikap keperwiraan Gus Maksum, meskipun anak buahnya ribuan beliau tidak pernah memerintahkan anak buahnya untuk membalaskan apa yang telah orang lain perbuat bagi beliau keselamatan yang Allah anugerahkan sudah cukup untuk disyukuri. Mari kita teladani sikap kesatria yang beliau miliki.

8. REFERENSI

Riset dari berbagai sumber

 

 


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makam Syekh Ikhsan Jampes

MAKAM KH. CHAMIM TOHARI DJAZULI GUS MIEK